Ekspedisi Pamalayu: Visi Geopolitik Singasari Membendung Ancaman Kekaisaran Mongol

NusaKisah.com – Jika kita mencari siapa tokoh politik pertama di Nusantara yang memiliki visi “menyatukan wilayah kepulauan”, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya. Namun, sejarah mencatat bahwa gagasan geopolitik raksasa itu sebenarnya dicetuskan pertama kali puluhan tahun sebelumnya oleh seorang raja dari Kerajaan Singasari yang sangat kontroversial, jenius, sekaligus nekat: Raja Kertanegara.

Kertanegara, raja terakhir Singasari, adalah penguasa Jawa pertama yang wawasannya melampaui batas Pulau Jawa (Cakrawala Mandala Dwipantara). Pada akhir abad ke-13, ia menyadari adanya ancaman global yang sangat mengerikan sedang bergerak dari daratan utara. Kekaisaran Mongol di bawah pimpinan Kubilai Khan telah menaklukkan daratan Tiongkok dan mulai melirik kekayaan Nusantara, menuntut agar raja-raja di Jawa tunduk dan mengirimkan upeti ke Beijing.

Menolak untuk tunduk, Kertanegara mengambil langkah yang sangat berani: bersatu dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara sebelum Mongol tiba. Langkah pertama dan paling monumental dalam rencana ini dilancarkan pada tahun 1275 Masehi, yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu (Ekspedisi menuju negeri Melayu/Sumatera).

Bukan Invasi Berdarah, Melainkan Diplomasi Cerdas

Banyak yang salah paham dan mengira Ekspedisi Pamalayu adalah invasi militer berdarah untuk menaklukkan Kerajaan Melayu (Dharmasraya) di Sumatera. Faktanya, ini adalah sebuah misi diplomasi pertahanan tingkat tinggi. Kertanegara mengirimkan ribuan pasukan elitnya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk melindungi dan mengajak raja-raja Sumatera bersekutu dalam satu pakta pertahanan militer bersama untuk mencegat armada Mongol jika mereka melewati Selat Malaka.

Sebagai tanda persahabatan sejati dan jaminan keamanan, pada tahun 1286, Kertanegara mengirimkan sebuah hadiah yang sangat suci ke Dharmasraya: Arca Amoghapasa (perwujudan Buddha kasih sayang). Pengiriman arca ini tercatat dalam Prasasti Padang Roco, yang menegaskan bahwa hadiah ini diberikan agar seluruh rakyat Melayu bersuka cita dan mengikat tali persaudaraan dengan Singasari.

Sebagai balasan, Raja Dharmasraya juga membalas dengan elegan. Ia mengirimkan dua putri kerajaan yang sangat cantik, Dara Jingga dan Dara Petak, ke tanah Jawa untuk dinikahkan dengan pangeran-pangeran Jawa demi menguatkan ikatan darah antar-kerajaan.

Ironi Keberhasilan Ekspedisi

Ekspedisi Pamalayu terbukti sangat sukses secara politik. Sumatera berhasil digandeng secara damai untuk membentuk barikade laut Nusantara. Sayangnya, taktik mengirimkan ribuan pasukan terbaik Singasari ke Sumatera menjadi pedang bermata dua bagi Kertanegara.

Karena sebagian besar militer terbaiknya ditugaskan di Sumatera selama bertahun-tahun, pertahanan ibu kota Singasari menjadi sangat lemah dan kopong. Celah ini dimanfaatkan oleh pemberontak dari Kediri, Jayakatwang, yang menyerang ibu kota Singasari secara mengejutkan pada tahun 1292. Kertanegara terbunuh di istananya sendiri, tepat sebelum tentara Mongol yang ia khawatirkan mendarat di tanah Jawa.

Meskipun Singasari akhirnya runtuh oleh pemberontakan internal, visi geopolitik Kertanegara tidak mati. Menantunya, Raden Wijaya (pendiri Majapahit), kelak akan melanjutkan cetak biru persatuan Nusantara ini hingga mencapai masa keemasan, menjadikannya arsitek pertama ideologi kemerdekaan berdikari Nusantara.