
NusaKisah.com – Sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme Belanda tidak melulu soal taktik perang gerilya di hutan atau perang diplomasi di meja perundingan. Di Pulau Dewata (Bali), perlawanan terhadap penjajah diekspresikan dengan cara yang sangat ekstrem, heroik, dan tragis hingga membuat bangsa-bangsa di Eropa merinding mendengarnya. Salah satu peristiwa paling mengerikan namun sangat dihormati itu adalah Perang Puputan Badung yang terjadi pada 20 September 1906.
Kata Puputan berasal dari bahasa Bali “Puput” yang berarti tanggal, putus, atau habis-habisan. Dalam konteks peperangan, Puputan adalah keputusan final dan sakral dari seorang ksatria Bali untuk bertempur hingga titik darah penghabisan. Menyerah hidup-hidup kepada musuh dianggap sebagai kehinaan terburuk yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.

Tuntutan Gila Belanda dan Harga Diri Raja
Tragedi ini bermula dari akal-akalan licik pemerintah kolonial Belanda. Sebuah kapal layar berbendera Tiongkok berlabuh di Pantai Sanur, wilayah Kerajaan Badung. Kapal tersebut kandas dan dijarah oleh penduduk lokal sesuai Hukum Tawan Karang (hukum adat Bali di mana kapal yang karam menjadi hak milik raja setempat). Belanda menggunakan insiden kecil ini sebagai alasan untuk menyerang. Mereka menuntut ganti rugi yang sangat tidak masuk akal (ribuan keping perak) kepada Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung.
Sang Raja tentu saja menolak tuntutan pemerasan tersebut karena merasa sudah beroperasi di wilayah hukum kedaulatannya sendiri. Penolakan ini dijawab oleh Belanda dengan mengirimkan armada laut besar-besaran dan ribuan pasukan bersenjata meriam ke Pantai Sanur untuk membombardir Kerajaan Badung.
Menyongsong Kematian Berpakaian Putih
Sadar bahwa persenjataan keris dan tombak tidak akan mungkin menang melawan hujan meriam tempur dan senapan mesin mematikan, Raja I Gusti Ngurah Made Agung mengambil keputusan yang menggetarkan jiwa. Alih-alih melarikan diri, ia memerintahkan seluruh keluarga keraton—termasuk para istri, pendeta, anak-anak, hingga rakyat jelata—untuk mengenakan pakaian serba putih. Pakaian putih ini adalah simbol pakaian kematian (kain kafan) dan kesucian jiwa.
Ketika pasukan Belanda mendekati istana puri, pintu gerbang terbuka. Bukannya bendera putih tanda menyerah yang keluar, melainkan arak-arakan ribuan rakyat Bali berpakaian suci yang berjalan tenang menyongsong barikade senapan Belanda. Sang Raja, dengan keris terhunus, memberikan aba-aba penyerangan.
Pasukan Belanda yang kebingungan akhirnya melepaskan tembakan senapan mesin membabi buta ke arah arak-arakan tersebut. Ribuan rakyat tumbang. Dalam kekacauan dan hujan peluru, mereka yang terluka tidak menyerah. Sesuai tradisi Puputan, sisa kerabat keraton yang masih hidup justru saling menikam satu sama lain dengan keris agar tidak jatuh hidup-hidup ke tangan musuh yang najis.
Ribuan rakyat Bali tewas dalam genangan darah pada hari itu. Ketika berita tentang pembantaian massal dan pengorbanan heroik ini sampai ke Eropa, media internasional mengecam habis-habisan tindakan barbar militer Belanda. Peristiwa Puputan Badung sukses menampar wajah etis pemerintah kolonial dan menjadi simbol abadi bahwa harga diri bangsa Nusantara tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.
