Jejak Kaki Raja Purnawarman: Simbol Teknologi Air Abad ke-5 Kerajaan Tarumanegara

NusaKisah.com – Jika kita membahas sejarah peradaban Hindu kuno di Jawa, kita sering kali terlalu fokus pada Candi Borobudur atau Kerajaan Majapahit di Jawa Tengah dan Timur, dan melupakan fakta bahwa Pulau Jawa bagian barat juga menyimpan rahasia kekaisaran kuno yang tak kalah megah. Jauh sebelum era Majapahit, peradaban agung telah berdiri kokoh di tepian sungai-sungai besar Jawa Barat (Banten dan Bogor). Kerajaan tersebut adalah Tarumanegara, yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-5 Masehi di bawah kepemimpinan raja terhebatnya: Raja Purnawarman.

Bukti kebesaran Kerajaan Tarumanegara dan Sang Raja tidak diwujudkan dalam bentuk candi raksasa, melainkan tertulis abadi di atas sebuah batu kali vulkanik raksasa yang ditemukan di aliran Sungai Ciaruteun, Bogor. Batu tersebut dikenal oleh dunia arkeologi sebagai Prasasti Ciaruteun.

Jejak Kaki Dewa Wisnu Sang Pemelihara Alam

Hal yang membuat Prasasti Ciaruteun sangat unik dan fenomenal adalah adanya pahatan sepasang telapak kaki manusia (yang diyakini sebagai ukuran telapak kaki Raja Purnawarman sendiri) tepat di bawah tulisan berhuruf Pallawa. Dalam baris pertama dan kedua prasasti tersebut tertulis kalimat puitis dalam bahasa Sanskerta yang artinya: “Inilah sepasang telapak kaki yang seperti kaki Dewa Wisnu, telapak kaki Yang Mulia Purnawarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia.”

Mengapa Raja Purnawarman menyamakan telapak kakinya dengan Dewa Wisnu? Dalam mitologi Hindu, Wisnu adalah dewa pemelihara alam semesta yang bertugas menjaga keseimbangan dan mencegah kehancuran bumi. Pahatan jejak kaki tersebut adalah simbol legitimasi kekuasaan politik sekaligus spiritual; Raja Purnawarman mendeklarasikan kepada seluruh rakyatnya bahwa ia adalah pelindung mereka, penjaga kemakmuran layaknya Wisnu yang menapakkan kakinya di bumi.

Teknologi Pengendali Banjir dan Irigasi Purba

Pujian terhadap Raja Purnawarman bukanlah omong kosong yang ditulis hanya untuk mengagungkan nama. Kekayaan dan kemakmuran Kerajaan Tarumanegara didukung oleh teknologi infrastruktur teknik sipil yang luar biasa maju pada zamannya.

Bukti dari kehebatan teknologi tersebut tercatat dalam Prasasti Tugu (prasasti lain peninggalan Purnawarman). Prasasti itu menceritakan bahwa Raja Purnawarman berhasil memimpin proyek raksasa pembuatan tanggul dan pengerukan saluran air Sungai Gomati dan Sungai Candrabaga sepanjang 11 kilometer! Hebatnya lagi, pengerjaan proyek galian sungai yang membelah tanah Jawa Barat ini diselesaikan hanya dalam waktu 21 hari.

Proyek kanal raksasa ini memiliki dua fungsi yang sangat vital: pertama, sebagai sistem pengendali banjir agar air bah dari hulu sungai tidak merendam perumahan warga di ibu kota kerajaannya pada saat musim hujan. Kedua, saluran tersebut difungsikan sebagai sistem irigasi pertanian untuk mengairi persawahan sawah di musim kemarau, yang menjamin ketahanan pangan rakyat Tarumanegara.

Jejak kaki di Ciaruteun adalah monumen bahwa raja sejati Nusantara masa lalu bukanlah raja yang gemar menumpahkan darah rakyat di medan perang, melainkan raja yang berkeringat membangun bendungan agar rakyatnya bebas dari bencana alam.