
NusaKisah.com – Bagi masyarakat Indonesia, menyebut nama Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, seolah langsung membukakan pintu ke dunia gelap ilmu hitam dan kekayaan instan. Tempat ini telah lama mendapatkan cap hitam sebagai pusat pesugihan terbesar di Pulau Jawa. Banyak peziarah dari berbagai etnis dan latar belakang agama datang berbondong-bondong setiap malam Jumat Legi atau tanggal 12 Suro demi memburu kekayaan secara gaib.
Mitos utama yang menyelimuti kawasan ini adalah ritual Pohon Dewandaru (Pohon Kesabaran). Para pencari pesugihan rela duduk bersila selama berhari-hari di bawah pohon suci tersebut, menunggu daun, buah, atau rantingnya jatuh ke pangkuan mereka secara alami (tidak boleh dipetik). Daun yang jatuh itu kemudian diyakini sebagai jimat pelarisan yang akan mendatangkan uang tanpa batas. Tentu saja, layaknya mitos klenik lainnya, pesugihan ini konon membutuhkan “tumbal” nyawa dari keluarga si pelaku sebagai bayaran kontrak gaibnya.

Fakta Sejarah: Makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo
Namun, mari kita jernihkan kabut klenik ini dengan fakta sejarah yang sesungguhnya. Di puncak ketenaran mistisnya, banyak orang lupa “siapa” sebenarnya yang dimakamkan di pesarean suci Gunung Kawi tersebut. Makam tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir dua tokoh besar: Kyai Zakaria II (Eyang Jugo) dan Raden Mas Iman Sujono (Eyang Sujo).
Siapakah mereka? Mereka bukanlah dukun aliran hitam, melainkan ulama sekaligus komandan pasukan gerilya pengikut setia Pangeran Diponegoro! Setelah Pangeran Diponegoro dikhianati dan ditangkap oleh Belanda pada tahun 1830, banyak pasukannya yang melarikan diri ke Jawa Timur untuk menghindari eksekusi mati. Eyang Jugo dan Eyang Sujo melarikan diri hingga ke lereng Gunung Kawi, mengubah identitas mereka, dan membuka padepokan.
Di tempat inilah mereka bersembunyi sambil terus mengajarkan agama Islam, ilmu pertanian, dan pengobatan tradisional kepada penduduk setempat tanpa memungut biaya. Mereka adalah pahlawan yang memberdayakan masyarakat desa agar mandiri dari penindasan ekonomi Belanda.
Kesesatan Terstruktur dari Makna ‘Pesugihan’
Lalu dari mana datangnya mitos tumbal dan pesugihan gaib? Kata “pesugihan” sebenarnya berasal dari bahasa Jawa sugih yang berarti kaya. Pada zaman dahulu, orang yang belajar ke Eyang Jugo diajarkan etos kerja keras, cara bertani yang benar, dan hidup bergotong-royong. Hasilnya, kehidupan ekonomi desa menjadi sugih (makmur/kaya).
Sayangnya, setelah ratusan tahun berlalu, makna sugih akibat kerja keras ini terdistorsi dan dipelintir oleh oknum-oknum juru kunci palsu dan calo ritual. Mereka mengubah sejarah kerja keras sang pahlawan menjadi narasi ilmu hitam instan yang mewajibkan tumbal, semata-mata untuk meraup keuntungan uang dari mahar para peziarah yang sedang putus asa secara ekonomi.
Gunung Kawi adalah contoh paling menyedihkan tentang bagaimana makam seorang pejuang kemerdekaan dan ulama suci dapat dinodai reputasinya oleh keserakahan manusia dan kebodohan klenik massal dari generasi ke generasi.
