
NusaKisah.com – Jika Anda mengira candi-candi megah di Jawa Timur hanya peninggalan kerajaan kecil, Anda harus melangkahkan kaki ke Kabupaten Blitar. Tepat di lereng barat daya Gunung Kelud, berdiri kompleks percandian Hindu terbesar di Jawa Timur: Candi Penataran. Candi ini bukan sekadar tempat ibadah biasa, melainkan “Candi Kenegaraan” (State Temple) yang memegang peran paling krusial dalam sejarah spiritual dan politik Kerajaan Majapahit, khususnya pada masa keemasan Raja Hayam Wuruk.
Dibangun pertama kali pada era Raja Srengga dari Kerajaan Kediri (sekitar 1197 M), candi ini terus diperluas dan disempurnakan melintasi tiga zaman kerajaan: Kediri, Singasari, hingga puncaknya di era Majapahit. Nama asli candi ini dalam kitab Nagarakretagama adalah Candi Palah.

Pusat Spiritual Penolak Bala Gunung Kelud
Secara geografis, pemilihan lokasi Candi Penataran sangatlah strategis dan penuh makna mitigasi bencana. Letaknya yang berada di kaki Gunung Kelud menjadikannya sebagai episentrum pemujaan kepada Girindra (Dewa Penguasa Gunung).
Pada masa itu, letusan Gunung Kelud merupakan ancaman paling mematikan bagi peradaban Jawa Timur. Para raja Majapahit secara rutin mendatangi Candi Penataran untuk melakukan ritual penolakan bala agar Gunung Kelud tidak meletus dan memuntahkan lahar yang bisa menghancurkan panen dan ibu kota Trowulan. Kunjungan rutin Raja Hayam Wuruk ke candi ini tercatat dengan sangat detail oleh Mpu Prapanca sebagai perjalanan suci yang menunjukkan kedekatan raja dengan sang pencipta alam.
Legitimasi Politik dan Relief Penuh Misteri
Selain fungsi mitigasi bencana, Candi Penataran digunakan oleh Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada sebagai sarana legitimasi kekuasaan politik. Mengadakan upacara besar di candi ini adalah cara kerajaan menunjukkan kekayaan, dominasi, dan perlindungan magis kepada rakyatnya. Raja yang mampu mengendalikan amarah Gunung Kelud melalui ritual di Penataran akan dianggap sebagai wakil dewa di bumi (Dewa Raja).
Keunikan lain dari Candi Penataran terletak pada gaya arsitektur dan pahatan reliefnya yang sangat berbeda dari candi-candi di Jawa Tengah. Jika relief Borobudur atau Prambanan berbentuk tiga dimensi yang realistis, relief di Penataran (yang menceritakan epik Ramayana dan Krishnayana) dipahat dengan gaya dua dimensi atau figuratif, sangat mirip dengan bentuk Wayang Kulit. Hal ini menunjukkan bukti kuat bahwa seni pertunjukan wayang memang sudah mengakar kuat dan menjadi identitas seni utama pada era Majapahit.
Candi Penataran adalah bukti bisu kebesaran masa lalu Nusantara. Melalui susunan batunya, kita diajarkan bahwa kehebatan sebuah kerajaan tidak hanya dibangun dengan pedang dan pasukan Bhayangkara, tetapi juga melalui dominasi spiritual, rasa hormat terhadap kekuatan alam, dan perlindungan terhadap kebudayaan lokal.
