Gurindam Dua Belas: Mahakarya Sastra Melayu yang Menembus Zaman

NusaKisah.com – Jauh sebelum era kutipan motivasi bertebaran di media sosial, masyarakat Nusantara sudah memiliki pedoman hidup yang ditulis dengan rima yang indah dan diksi yang elegan. Salah satu karya sastra klasik yang pamornya tak pernah lekang oleh waktu adalah Gurindam Dua Belas. Karya ini lahir dari pena seorang ulama, sejarawan, sekaligus pujangga besar dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, yakni Raja Ali Haji pada tahun 1847.

Berbeda dengan pantun yang biasanya berisi sampiran dan isi, gurindam terdiri dari dua baris kalimat yang berirama sama (a-a). Baris pertama berisi masalah atau syarat, sedangkan baris kedua berisi jawaban atau akibatnya. Sesuai dengan namanya, Gurindam Dua Belas dibagi menjadi 12 pasal yang mencakup hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

Relevansi Lintas Generasi

Raja Ali Haji merangkum nilai-nilai syariat Islam, adab bermasyarakat, etika bernegara, hingga pengenalan jati diri dalam kalimat-kalimat yang tajam namun menyejukkan. Salah satu pasal yang paling terkenal dan sering diajarkan di bangku sekolah adalah kutipan dari Pasal yang ke-5: “Jika hendak mengenal orang berbangsa, lihat kepada budi dan bahasa.” Melalui baris tersebut, Raja Ali Haji menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa banyak hartanya atau seberapa tinggi pangkatnya, melainkan dari seberapa baik kelakuan (budi) dan tutur katanya (bahasa). Pesan ini sangat relevan melintasi zaman, mengingatkan kita bahwa sopan santun adalah cerminan utama dari jiwa yang berpendidikan.

Membaca Gurindam Dua Belas di era modern bukan sekadar nostalgia pelajaran bahasa di masa lampau. Ia adalah cermin yang memaksa kita untuk kembali mengevaluasi moralitas kita di tengah arus zaman yang bergerak terlalu cepat. Mahakarya dari Pulau Penyengat ini membuktikan bahwa kata-kata yang baik, jika disusun dengan keikhlasan, akan abadi selamanya.