
NusaKisah.com – Jika Eropa memiliki Werewolf (manusia serigala), maka Pulau Sumatera, khususnya di kawasan Gunung Kerinci (Jambi), memiliki makhluk setengah hewan yang sangat dihormati: Cindaku.
Bagi suku Kerinci, Cindaku bukanlah sosok siluman jahat penuntut tumbal atau hasil pesugihan ilmu hitam. Mereka adalah kelompok manusia yang memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi, yang mampu mengubah wujud aslinya menjadi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Namun, perubahan wujud ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Mitos menyebutkan bahwa kemampuan ini merupakan perjanjian leluhur (Tingkas) antara manusia dan harimau di masa lalu. Seorang Cindaku hanya bisa berubah wujud jika ia menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya (Bumi Kerinci) dan hanya jika ada pelanggaran hukum adat yang terjadi.

Penegak Hukum Rimba
Keberadaan Cindaku terkait erat dengan konsep menjaga keseimbangan ekosistem. Dalam kepercayaan tradisional, harimau dianggap sebagai “Datuk” atau leluhur yang menjaga hutan. Jika ada manusia yang serakah, menebang pohon sembarangan di hutan larangan, merusak mata air, atau memburu binatang secara berlebihan, maka Cindaku akan turun tangan untuk memberikan peringatan keras, bahkan menghabisi para perusak alam tersebut.
Kisah Cindaku sangat kaya akan nilai ekologis. Di zaman dahulu, ketika belum ada polisi hutan (Polhut) atau undang-undang konservasi lingkungan tertulis, menanamkan rasa takut terhadap penjaga hutan berbentuk manusia harimau adalah cara paling ampuh untuk mencegah perambahan hutan. Masyarakat tradisional di sekitar Gunung Kerinci hidup berdampingan dengan harimau karena mereka memiliki pedoman tak tertulis: harimau tidak akan mengganggu manusia selama manusia tidak merusak rumah (hutan) sang harimau.
Mitos Cindaku adalah bukti bahwa kearifan lokal Nusantara telah menyadari pentingnya konsep konservasi alam (ramah lingkungan) jauh sebelum istilah global warming atau go green dikampanyekan oleh dunia modern. Cindaku adalah pahlawan rimba, monster pelindung yang lahir dari penghormatan manusia terhadap alamnya.
