
NusaKisah.com – Bagi para pengemudi lintas provinsi yang sering melewati Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, nama Alas Roban sudah menjadi jaminan untuk merinding. Kawasan hutan jati seluas puluhan hektare yang membelah Kabupaten Batang ini terkenal sebagai salah satu “Jalur Tengkorak” paling mematikan di Indonesia. Kontur jalannya yang berkelok tajam, menanjak, dan minim penerangan di malam hari membuat kawasan ini sering menelan korban kecelakaan maut.
Namun, di balik tebing yang curam dan pohon jati yang menjulang, Alas Roban menyimpan lapisan misteri yang jauh lebih pekat daripada sekadar kecelakaan lalu lintas. Hutan ini diyakini sebagai “kota gaib” tempat bersemayamnya ribuan roh penasaran. Mitos penampakan wanita berbaju putih di tengah jalan, bus hantu yang tidak menapak tanah, hingga warung gaib pecel lele yang tiba-tiba lenyap di pagi hari sudah menjadi makanan sehari-hari warga dan sopir bus malam.
Bagaimana sebuah jalan raya bisa memiliki reputasi semengerikan ini? Jawabannya terukir dari sejarah yang dipenuhi darah dan penyiksaan.

Tumbal Jalan Raya Pos Daendels (1808)
Aura mistis Alas Roban berawal dari era kolonialisme Hindia Belanda, tepatnya di bawah tangan besi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pada tahun 1808, demi mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) sejauh 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan.
Alas Roban adalah salah satu medan terberat dalam megaproyek tersebut. Hutan ini harus dibelah dengan menebang pohon raksasa dan memapras tebing batu curam. Karena kurangnya peralatan modern dan gizi yang buruk, sistem kerja paksa (rodi) ini memakan korban jiwa yang luar biasa banyak. Ribuan pekerja pribumi tewas di tengah hutan akibat kelaparan, terserang penyakit malaria, atau mati kelelahan karena dicambuk oleh mandor Belanda.
Kejamnya, mayat-mayat pekerja paksa yang tewas ini tidak dimakamkan dengan layak, melainkan dibiarkan membusuk atau dikubur secara massal di pinggir tebing jalan yang sedang mereka bangun. Darah dan keringat ribuan pribumi inilah yang menjadi “tumbal” pertama yang meresap ke dalam tanah Alas Roban, menciptakan energi negatif dan rasa penasaran yang teramat kuat.
Kawasan Pembuangan Mayat Petrus (1980-an)
Reputasi seram Alas Roban kembali diperbarui di era Orde Baru, tepatnya pada dekade 1980-an. Pada masa itu, pemerintah menggelar operasi Penembakan Misterius (Petrus) untuk menekan angka kriminalitas. Para preman, penjahat kambuhan, atau orang bertato diculik di tengah malam dan dieksekusi tanpa pengadilan.
Alas Roban, dengan hutannya yang lebat dan lokasinya yang jauh dari pemukiman padat, sering dijadikan “tempat pembuangan akhir” bagi mayat-mayat korban Petrus. Warga lokal sering kali menemukan jasad tak dikenal tergeletak di semak-semak atau di dasar jurang Alas Roban dengan luka tembak atau leher terjerat.
Rentetan sejarah kematian yang tak wajar, mulai dari tumbal kerja paksa Daendels hingga eksekusi rahasia di malam buta, menjadikan Alas Roban tidak pernah kekurangan pasokan roh penasaran. Fenomena gaib dan kecelakaan lalu lintas di jalan ini sering kali saling tumpang tindih; apakah kecelakaan terjadi karena rem blong, atau karena pandangan sopir sengaja “ditutup” oleh penghuni hutan? Di Alas Roban, batas antara kelalaian manusia dan gangguan gaib adalah garis tipis yang sering kali harus dibayar dengan nyawa.
