
NusaKisah.com – Jika Amerika Serikat membanggakan Secret Service untuk melindungi presidennya, atau Inggris memiliki Kings’s Guard, maka Nusantara pada abad ke-14 memiliki unit pasukan khusus yang tak kalah legendaris: Pasukan Bhayangkara. Nama “Bhayangkara” sendiri saat ini diabadikan sebagai sebutan untuk Kepolisian Republik Indonesia (Polri), namun akar sejarah pasukan ini bermula dari kejayaan Kerajaan Majapahit.
Pasukan Bhayangkara pada masa Majapahit bukanlah prajurit infantri biasa. Mereka adalah kesatuan elite (special forces) yang dibentuk secara khusus untuk menjadi perisai hidup atau pengawal pribadi Raja dan keluarga kerajaan. Menariknya, komandan yang berhasil membesarkan dan melatih pasukan ini hingga menjadi unit mematikan adalah sosok yang sangat kita kenal: Gajah Mada.

Taktik Gerilya dan Penyelamatan Raja Jayanegara
Reputasi Bhayangkara meroket tajam pada masa pemerintahan Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit). Pada saat itu, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Ra Kuti (salah satu pejabat istana) pada tahun 1319. Ibu kota Trowulan berhasil diduduki pemberontak, dan nyawa raja sangat terancam.
Dalam kondisi genting, Gajah Mada (yang saat itu berstatus sebagai komandan Bhayangkara / Bekel) membawa 15 prajurit Bhayangkara pilihan untuk menyelamatkan Raja Jayanegara. Menggunakan taktik gerilya, kamuflase tingkat tinggi, dan pergerakan senyap di malam hari, mereka berhasil membawa raja kabur dari kepungan ribuan musuh menuju Desa Badander secara rahasia. Gajah Mada kemudian menyusup kembali ke ibu kota, menyebarkan intelijen (hoaks) yang memicu perpecahan di kubu Ra Kuti, hingga akhirnya pemberontakan berhasil dipadamkan.
Kemampuan Tempur di Atas Rata-rata
Untuk menjadi anggota Bhayangkara, seorang prajurit harus melewati seleksi fisik dan mental yang sangat brutal. Mereka diwajibkan menguasai berbagai seni bela diri (cikal bakal pencak silat), ahli menggunakan berbagai senjata maut (keris, tombak, panah), mahir menunggang kuda, dan memiliki kemampuan intelijen atau telik sandi. Sumpah setia mereka kepada raja adalah harga mati, dan mereka rela mengorbankan nyawa kapan saja tanpa ragu.
Pasukan Bhayangkara adalah bukti bahwa sistem kemiliteran, rantai komando, dan unit pasukan khusus (special forces) sudah dikenal dan dipraktikkan dengan sangat rapi oleh peradaban Nusantara ratusan tahun silam.
