
NusaKisah.com – Pernahkah Anda membayangkan sebuah kota yang sangat maju, dipenuhi gedung pencakar langit berlapis emas, dan mobil-mobil mewah yang melayang tanpa roda, namun tak tercatat di Google Maps?
Selamat datang di narasi tentang Saranjana.
Bagi masyarakat Kotabaru, Kalimantan Selatan, nama Saranjana bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah sebuah “rahasia umum”. Lokasinya sering dikaitkan dengan sebuah bukit kecil yang berbatasan langsung dengan laut di Desa Oka-oka. Secara kasat mata, tempat itu hanyalah bukit sunyi yang rimbun dan asri. Namun bagi mereka yang “terpilih” atau memiliki kepekaan batin, bukit itu diyakini sebagai gerbang menuju peradaban megah yang tak kasat mata.
Jejak di Peta Kuno

Menariknya, meski sering dianggap halusinasi massal atau mitos belaka, nama “Saranjana” ternyata pernah muncul dalam peta buatan naturalis Jerman, Salomon Müller, pada tahun 1845. Di peta berjudul Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermasing tersebut, tertulis wilayah bernama “Tandjong Serandjana” di area yang kini dipercaya sebagai lokasi kota gaib tersebut.
Apakah ini bukti bahwa Saranjana dulunya adalah wilayah nyata yang kemudian hilang? Atau memang sejak dulu ia adalah wilayah “kekuasaan” entitas lain yang hidup berdampingan dengan kita?
Berbagai kesaksian warga lokal menyebutkan sering terdengar suara riuh musik atau deru mesin pabrik dari arah bukit di malam hari, padahal di sana tidak ada pemukiman. Ada juga cerita viral tentang kurir paket atau pengirim alat berat yang kebingungan karena alamat tujuannya tiba-tiba lenyap menjadi hutan belantara saat didatangi.
Kisah Saranjana mengajarkan kita satu hal: mungkin, kita tidak benar-benar sendirian di bumi ini. Ada “tetangga” yang tak terlihat, yang mengamati kita dari balik tabir dimensi lain.
