Sejarah Pulau Run: Saat Rempah Maluku Ditukar dengan Pulau Manhattan New York

NusaKisah.com – Coba bayangkan gemerlapnya kota New York di Amerika Serikat saat ini, dengan gedung pencakar langitnya yang megah di Pulau Manhattan. Lalu bandingkan dengan sebuah pulau kecil yang sepi seluas 3 kilometer persegi di Kepulauan Banda, Maluku. Siapa sangka, di abad ke-17, kedua pulau beda benua ini pernah berada di atas satu meja perundingan dan ditukar guling secara resmi?

Kisah ini adalah bukti nyata betapa gilanya monopoli perdagangan rempah-rempah di masa lalu. Pada tahun 1600-an, buah pala adalah komoditas yang harganya jauh melebihi emas. Orang Eropa meyakini buah pala tak hanya sekadar bumbu masak, melainkan obat penyembuh wabah mematikan (Black Death) yang saat itu menyapu benua mereka. Dan tahukah Anda? Saat itu, pohon pala hanya tumbuh di satu titik di seluruh bumi: Kepulauan Banda, Nusantara.

Persaingan Berdarah Inggris dan Belanda

Belanda melalui VOC sangat berambisi memonopoli Kepulauan Banda. Mereka berhasil menguasai hampir seluruh pulau, kecuali satu titik kecil bernama Pulau Run. Pulau ini dijaga mati-matian oleh pasukan Inggris (EIC) yang beraliansi dengan penduduk lokal. Selama puluhan tahun, konflik berdarah terus terjadi antara Inggris dan Belanda hanya demi memperebutkan sejengkal tanah penghasil pala ini.

Akhirnya, kedua negara raksasa ini kelelahan bertempur. Pada tahun 1667, mereka menandatangani Perjanjian Breda (Treaty of Breda). Dalam perjanjian tersebut, Inggris setuju menyerahkan Pulau Run di Maluku kepada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda harus menyerahkan sebuah pulau jajahan mereka di Amerika Utara yang bernama Nieuw Amsterdam kepada Inggris.

Sebuah Tukar Guling Beda Nasib

Setelah berpindah ke tangan Inggris, pulau di Amerika Utara itu diubah namanya oleh Duke of York menjadi New York (Manhattan). Belanda pada saat itu merasa sangat menang dan diuntungkan karena akhirnya bisa memonopoli pala dunia 100 persen. Mereka merasa melepas sebidang tanah rawa di Amerika demi emas hijau di Maluku adalah bisnis yang jenius.

Namun, roda sejarah berputar dengan ironis. Ratusan tahun kemudian, bibit pala berhasil diselundupkan dan ditanam di belahan dunia lain, membuat harganya anjlok. Sebaliknya, Manhattan yang dulu ditukar, kini menjelma menjadi pusat keuangan dan peradaban dunia. Pulau Run kini menjadi saksi bisu yang tenang di perairan Maluku, menyimpan memori bahwa tanah Nusantara pernah menjadi pusat pusaran keserakahan negara-negara Eropa.