Sumpah Palapa Gajah Mada: Ambisi dan Bukti Penyatuan Nusantara

NusaKisah.com – Dalam lembaran sejarah Nusantara, sulit menemukan tokoh yang ambisinya sebesar Mahapatih Gajah Mada. Saat dilantik menjadi Amangkubhumi (Perdana Menteri) Kerajaan Majapahit pada tahun 1336 Masehi di bawah pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi, ia mengucapkan sebuah sumpah yang akan mengubah peta politik wilayah kepulauan Asia Tenggara selamanya. Sumpah itu dikenal dengan nama Sumpah Palapa.

Teks asli sumpah tersebut tercatat dalam Kitab Pararaton: “Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.” Inti dari ikrar tersebut adalah Gajah Mada menolak untuk menikmati kesenangan duniawi (amukti palapa) sebelum seluruh wilayah kepulauan Nusantara tunduk di bawah satu panji kebesaran Majapahit.

Penaklukan yang Diremehkan

Pada saat sumpah itu diucapkan, banyak petinggi keraton Majapahit yang menertawakan dan menganggapnya mustahil. Bagaimana mungkin sebuah kerajaan di Jawa Timur bisa menaklukkan wilayah sejauh Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaya (Pahang), hingga Tumasik (kini Singapura)? Namun, Gajah Mada membuktikan bahwa kata-katanya bukanlah sekadar bualan kosong.

Dengan strategi diplomasi yang cerdik dan kekuatan angkatan laut Majapahit (Armada Cetbang) yang dipimpin oleh Laksamana Nala, Gajah Mada perlahan-lahan mewujudkan sumpahnya. Ekspansi militer dan perdagangan Majapahit meluas dengan pesat. Kerajaan-kerajaan kecil yang awalnya meremehkan, akhirnya terpaksa mengakui hegemoni Majapahit demi perlindungan dan jalur perdagangan rempah-rempah yang aman.

Sumpah Palapa bukan sekadar kisah penaklukan. Di era modern, sumpah ini sering dimaknai sebagai embrio atau cikal bakal dari konsep geopolitik kesatuan Republik Indonesia. Semangat Gajah Mada untuk menyatukan ribuan pulau yang terpisah oleh lautan tetap hidup dan menjadi fondasi kebanggaan bangsa hingga hari ini.