Babi Ngepet: Mitos Pesugihan dan Simbol Kecemburuan Sosial Zaman Kolonial

NusaKisah.com – Dalam deretan mitos ilmu hitam di Nusantara, siluman babi hutan yang bertugas mencuri uang warga mungkin adalah yang paling sering menjadi bahan pergunjingan antar-tetangga. Fenomena pesugihan Babi Ngepet sangat melegenda di Pulau Jawa. Ceritanya selalu seragam: seseorang yang ingin kaya instan rela menjual jiwanya untuk bisa berubah wujud menjadi babi hutan dengan cara menggesekkan badannya (ngepet) ke dinding rumah korban, sementara sang istri bertugas menjaga nyala api lilin di rumah.

Jika nyala lilin bergoyang atau meredup, itu pertanda siluman babi sedang dalam bahaya ketahuan warga, dan sang penjaga lilin harus segera mematikannya agar babi tersebut bisa kembali ke wujud manusia. Mitos ini terdengar sangat mistis, tetapi tahukah Anda bahwa kisah ini memiliki akar sosiologis dan sejarah ekonomi yang sangat logis di era kolonial?

Lahir dari Tanam Paksa dan Iri Hati Sejarawan meyakini bahwa mitos Babi Ngepet (dan pesugihan lain seperti Tuyul atau Nyegik) mulai merebak subur di abad ke-19, tepatnya pada era Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda. Pada masa itu, kemiskinan merajalela di kalangan kaum pribumi karena sebagian besar hasil panen mereka dirampas.

Namun, di tengah penderitaan massal itu, tiba-tiba muncul segelintir kaum pribumi (biasanya tengkulak, mandor, atau pedagang) yang hidupnya mendadak kaya raya dan bisa membangun rumah gedongan karena bekerja sama dengan pihak kolonial. Masyarakat agraris yang terbiasa hidup komunal dan miskin bersama, tidak bisa merasionalisasi “bagaimana seseorang bisa kaya tanpa harus berkeringat mencangkul di sawah?”.

Rasa frustrasi, kecemburuan sosial, dan ketidaktahuan tentang sistem ekonomi kapitalis (seperti bunga bank atau perdagangan antar-kota) akhirnya melahirkan “kambing hitam” berupa entitas gaib. Warga yang miskin lebih mudah menuduh tetangganya yang kaya mendadak sebagai penganut pesugihan Babi Ngepet, daripada mengakui bahwa tetangganya itu lebih pintar berbisnis atau lebih dekat dengan penguasa Belanda. Mitos Babi Ngepet, pada akhirnya, adalah dongeng satire tentang ketimpangan ekonomi yang dibalut klenik.