Jung Jawa: Kapal Induk Raksasa Nusantara yang Bikin Bangsa Eropa Merinding

NusaKisah.com – Jika kita membahas kapal tradisional Indonesia, Kapal Pinisi biasanya menjadi primadona. Namun, jika kita mundur lebih jauh ke era keemasan Kerajaan Demak dan Majapahit pada abad ke-15 hingga 16, lautan Nusantara pernah dikuasai oleh “kapal induk” raksasa yang ukurannya membuat bangsa Eropa ketakutan setengah mati. Monster lautan itu dikenal dengan nama Jung Jawa.

Berbeda dengan kapal-kapal Eropa (Galleon) atau Tiongkok saat itu, Jung Jawa adalah kapal kargo komersial sekaligus kapal tempur yang dimensinya sangat brutal. Fakta tentang kehebatan kapal ini bahkan bukan ditulis oleh sejarawan lokal untuk menyombong, melainkan diakui sendiri oleh catatan musuh, seperti laporan penjelajah Portugis, Tome Pires, dalam bukunya Suma Oriental.

Benteng Mengapung yang Kebal Tembakan

Tome Pires mencatat bahwa ukuran Jung Jawa berkali-kali lipat lebih besar dari Flor de la Mar, kapal perang terbesar milik armada Portugis saat itu. Sebuah Jung Jawa mampu mengangkut hingga 1.000 orang awak kapal dan prajurit, serta mampu membawa beban kargo hingga 2.000 ton!

Kapal ini dibangun dari empat lapis papan kayu jati tebal yang dirakit menggunakan pasak kayu (tanpa paku besi). Ketebalan dinding lambung kapal ini sangat gila, sehingga peluru meriam terbesar milik armada Portugis di Malaka pun hanya memantul dan gagal menembus lambung kapal Jung Jawa.

Dikisahkan saat Pati Unus dari Demak memimpin armada menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1513, ia menaiki Jung raksasa. Tembakan meriam Portugis sama sekali tidak mempan melubangi kapal utamanya. Kapal itu baru bisa dihentikan setelah Portugis mengerahkan seluruh meriam dari benteng darat dan kapal secara bersamaan ke arah tiang layarnya.

Sayangnya, era Jung Jawa berakhir pada abad ke-17. Raja Mataram saat itu, Amangkurat I, yang tidak peduli pada kekuatan maritim dan takut pada pemberontakan pesisir, memerintahkan penghancuran galangan-galangan kapal raksasa di pesisir utara Jawa. Jung Jawa pun akhirnya punah, menyisakan legenda tentang kehebatan nenek moyang kita sebagai penguasa mutlak samudra.