Candi Sukuh: Piramida ‘Maya’ yang Tersesat di Lereng Gunung Lawu

NusaKisah.com – Jika Anda membayangkan candi Hindu di Jawa, yang terlintas pasti menara-menara tinggi yang meruncing ke atas dengan ukiran halus, seperti Candi Prambanan. Namun, aturan arsitektur itu seketika hancur berantakan jika Anda berkunjung ke lereng barat Gunung Lawu, tepatnya di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Di sana berdiri sebuah mahakarya misterius peninggalan akhir Kerajaan Majapahit abad ke-15: Candi Sukuh.

Bentuk Candi Sukuh sangat aneh dan tidak lazim untuk ukuran candi di Nusantara. Alih-alih meruncing, bangunan utamanya berupa trapesium terpancung (piramida datar di bagian atas) dengan tangga sempit di tengahnya. Jika dilihat sekilas, Candi Sukuh justru terlihat sangat identik dengan piramida peninggalan Suku Maya (seperti Chichen Itza) atau Suku Inca di Amerika Selatan.

Penyimpangan Arsitektur dan Relief Vulgar

Mengapa arsitekturnya bisa menyimpang begitu jauh? Para arkeolog meyakini bahwa pada abad ke-15, Kerajaan Majapahit sedang mengalami kemunduran akibat konflik internal dan menguatnya pengaruh Islam di pesisir utara. Para pendeta Hindu yang menyingkir ke pegunungan (Gunung Lawu) mulai meninggalkan pakem arsitektur India yang rumit (Wastu Widya), dan kembali pada akar kebudayaan asli Nusantara, yaitu pemujaan roh leluhur dengan gaya megalitikum (punden berundak).

Selain bentuknya yang mirip piramida Maya, Candi Sukuh juga terkenal sangat kontroversial karena reliefnya. Di lantai pintu masuk candi, terdapat ukiran lingga dan yoni (alat kelamin pria dan wanita) yang digambarkan sangat jelas dan bersentuhan. Bagi mata modern, ini mungkin terlihat vulgar. Namun, dalam filosofi masa lalu, relief itu adalah simbol Suwung atau pelepasan, serta lambang kesuburan dan penyucian diri. Siapa pun yang melangkahi relief tersebut sebelum masuk ke area candi dianggap telah membuang segala kotoran hati dan pikiran.

Candi Sukuh adalah bukti betapa dinamis dan merdekanya para seniman Nusantara di masa lalu. Mereka tidak hanya meniru, tetapi berani mendobrak aturan untuk menciptakan identitas mereka sendiri menjelang keruntuhan sebuah kerajaan besar.