Barus, Tapanuli Tengah: Titik Nol Peradaban Islam dan Gerbang Jalur Rempah Nusantara

NusaKisah.com – Jika ditanya dari mana penyebaran agama Islam bermula di Indonesia, banyak yang langsung teringat pada Kesultanan Samudera Pasai di Aceh atau kiprah Wali Songo di Pulau Jawa pada abad ke-15. Namun, sejarah mencatat bahwa ada sebuah pelabuhan kuno yang jauh lebih tua, yang diyakini sebagai “Titik Nol” masuknya peradaban Islam ke Nusantara. Kota itu bernama Barus, terletak di pesisir Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Bahkan sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, nama Barus sudah tersohor di peta perdagangan dunia. Para pedagang dari Mesir kuno, Romawi, Timur Tengah, hingga Tiongkok mempertaruhkan nyawa mengarungi samudra hanya untuk mencari satu komoditi eksotis dari kota ini: Kapur Barus (Kamper).

Kapur Barus: Pengawet Mumi dan Parfum Raja

Pada masa lampau, getah kristal dari pohon Kamper (Dryobalanops aromatica) harganya jauh lebih mahal daripada emas. Bangsa Mesir kuno (era Firaun) sangat membutuhkan kapur barus dari Sumatera ini sebagai bahan utama untuk mengawetkan mumi, sementara para raja di Timur Tengah menggunakannya sebagai parfum istana dan obat-obatan tingkat tinggi.

Karena ramainya aktivitas bongkar muat dan perdagangan internasional inilah, Barus berkembang menjadi kota pelabuhan kosmopolitan pertama di Nusantara. Sejarawan Arab dan Persia mencatat kota pelabuhan ini dengan nama Fansur.

Jejak Syekh Rukunuddin dan Makam Mahligai

Gelombang kedatangan pedagang Arab yang beragama Islam mulai masuk ke Barus secara masif pada abad ke-7 Masehi (sekitar abad pertama Hijriah), tidak lama setelah agama Islam lahir di Jazirah Arab. Para pedagang Arab ini tidak hanya berdagang rempah, tetapi juga mendirikan perkampungan pesisir dan menikahi penduduk lokal, yang otomatis menyebarkan ajaran Islam secara damai.

Bukti otentik sejarah penyebaran Islam awal ini terbaring bisu di pemakaman kuno Kompleks Makam Mahligai dan Makam Papan Tinggi di Barus. Di atas bukit yang menatap langsung ke Samudra Hindia, terdapat puluhan batu nisan kuno dengan kaligrafi Arab yang sangat indah. Salah satu makam yang paling dihormati adalah makam Syekh Rukunuddin, seorang ulama penyebar Islam yang di batu nisannya tertulis angka wafat tahun 672 Masehi (48 Hijriah).

Penemuan makam-makam kuno ini menjadi tamparan bagi sejarah kolonial Belanda yang sebelumnya selalu menyebut Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke-13. Kota Barus menjadi bukti monumental bahwa interaksi Nusantara dengan peradaban Islam global sudah terjalin jauh lebih awal, membuktikan betapa terbukanya nenek moyang kita terhadap keragaman dan ilmu pengetahuan.