
NusaKisah.com – Dalam dunia supranatural Indonesia, nama Jenglot selalu sukses memancing rasa ngeri sekaligus penasaran. Berbeda dengan hantu yang tak kasat mata, Jenglot memiliki wujud fisik yang sering dipamerkan oleh para paranormal atau kolektor benda gaib. Bentuknya sangat mengerikan: wujudnya menyerupai manusia berukuran mungil (sekitar 10-15 cm) yang telah mengering layaknya mumi, dengan rambut lurus yang memanjang melebihi tubuhnya, taring yang mencuat dari mulut, serta kuku tangan yang meruncing tajam.
Mitos yang beredar di masyarakat meyakini bahwa Jenglot adalah wujud dari seorang praktisi ilmu hitam (seperti Batara Karang) di masa lampau yang ilmunya terlalu tinggi hingga ingin hidup abadi. Sayangnya, ia dikutuk. Saat ia meninggal, tubuhnya ditolak oleh bumi sehingga tidak bisa membusuk, namun menyusut menjadi kecil. Untuk “menghidupi” benda ini dan mendapatkan tuah pesugihannya, sang pemilik konon harus secara rutin meneteteskan darah manusia bergolongan O ke mulut Jenglot tersebut.

Sains Membongkar Klenik
Kehebohan tentang Jenglot mencapai puncaknya di akhir tahun 1990-an hingga 2000-an. Banyak pameran supranatural yang mengklaim memiliki Jenglot hidup. Namun, klaim-klaim klenik ini perlahan-lahan runtuh ketika sains modern turun tangan untuk membedahnya.
Pada tahun 1997, sebuah tim medis forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta bersama para akademisi Universitas Indonesia (UI) melakukan penelitian komprehensif terhadap beberapa spesimen Jenglot menggunakan teknologi Sinar-X (Rontgen) dan tes DNA.
Hasil rontgen menunjukkan fakta yang mengejutkan: Jenglot tidak memiliki kerangka tulang apendikular (tulang penyusun lengan dan kaki) maupun persendian! Jika Jenglot adalah mumi manusia yang menyusut, struktur tulangnya secara anatomis seharusnya tetap ada. Alih-alih tulang, bagian dalam spesimen tersebut disangga oleh serpihan kayu, kawat, dan bahan perekat.
DNA Manusia yang Dimanipulasi
Bagaimana dengan temuan DNA manusia pada kulit dan rambut Jenglot? Dokter forensik menjelaskan bahwa spesimen Jenglot tersebut merupakan hasil kerajinan tangan (taxidermy atau pengawetan bangkai) buatan manusia yang sangat presisi.
Pembuatnya menggunakan kulit dari hewan (seperti kelelawar atau monyet beruk) yang dijahit rapi, lalu menempelkan rambut rontok asli manusia dan gigi hewan ke bagian kepalanya. Hal inilah yang menjelaskan mengapa saat dilakukan tes DNA pada bagian rambutnya, muncul hasil profil genetik manusia, meskipun secara anatomi struktur tubuhnya 100% palsu.
Banyak oknum yang sengaja membuat dan memperjualbelikan Jenglot palsu ini kepada orang-orang yang putus asa secara finansial dengan iming-iming pesugihan kekayaan. Mitos Jenglot adalah bukti nyata bagaimana ketidaktahuan, obsesi cepat kaya, dan keahlian kriya kerajinan tangan bisa berpadu menjadi penipuan gaib yang sukses mengecoh jutaan orang.
