Kemukus dan Mitos Ritual Seks Bebas: Bagaimana Makam Suci Berubah Menjadi Lokalisasi Terselubung?

NusaKisah.com – Jika Anda mendengar nama Gunung Kemukus di Sragen, Jawa Tengah, apa yang pertama kali terlintas di pikiran? Bagi sebagian besar masyarakat, nama tempat ini sangat lekat dengan stigma negatif yang sangat kelam: ritual pesugihan yang mewajibkan pelakunya melakukan hubungan seks bebas (zinah) dengan orang asing yang bukan pasangan sahnya.

Reputasi kelam Gunung Kemukus ini bahkan pernah mendunia setelah diliput oleh media asing seperti Dateline Australia, yang menjulukinya sebagai “Sex Mountain”. Mitos yang beredar luas menyebutkan bahwa barang siapa yang ingin kaya raya secara instan, melunasi hutang, atau agar bisnisnya lancar, harus berziarah ke makam Pangeran Samudro di puncak Kemukus, lalu berhubungan badan dengan orang asing selama tujuh kali berturut-turut pada malam Jumat Pon.

Namun, bagaimana bisa sebuah tempat yang sejatinya adalah makam seorang tokoh agama berubah menjadi lokalisasi terselubung berkedok ritual gaib?

Kisah Tragis Pangeran Samudro: Fakta vs Fitnah

Untuk memahami penyimpangan ini, kita harus meluruskan sejarah tokoh utama yang dimakamkan di sana: Pangeran Samudro. Beliau adalah salah satu putra dari Raja Majapahit terakhir (Brawijaya V), yang di akhir keruntuhan kerajaannya, memutuskan untuk memeluk agama Islam. Pangeran Samudro belajar agama ke Sunan Kalijaga di Demak, lalu ditugaskan untuk berdakwah ke wilayah pedalaman Sragen dan sekitarnya.

Dalam perjalanannya kembali ke Demak, Pangeran Samudro jatuh sakit parah dan akhirnya meninggal dunia di Desa Dukuh (yang kini dikenal sebagai kawasan Gunung Kemukus). Menjelang ajalnya, ia ditemani oleh sosok perempuan paruh baya bernama Ontrowulan, yang tidak lain adalah ibu tirinya sendiri (salah satu selir Brawijaya V). Sang ibu tiri ini sangat menyayangi Samudro layaknya anak kandungnya sendiri dan menemaninya hingga napas terakhir.

Sayangnya, kisah suci ibu tiri yang merawat anak menjelang kematian ini dipelintir dan difitnah secara brutal selama ratusan tahun oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kisah tersebut diubah menjadi kisah perselingkuhan sedarah (inses) antara Pangeran Samudro dan ibu tirinya, yang konon tertangkap basah sedang berhubungan intim lalu dibunuh dan dimakamkan di sana. Fitnah keji inilah yang menjadi cikal bakal mitos kesesatan: “Jika ingin doanya terkabul, harus meniru apa yang dilakukan Pangeran Samudro dan Ontrowulan” (berhubungan badan di luar nikah).

Kapitalisme Klenik dan Pembodohan Massal

Bagaimana fitnah sejarah ini bisa diyakini secara massal? Jawabannya adalah kapitalisme klenik dan pembodohan yang disengaja. Di era 1970 hingga 1990-an, mitos ritual seks ini sengaja dihembuskan dan dipelihara oleh para oknum calo, pemilik warung remang-remang, juru kunci palsu, dan mucikari di sekitar kawasan tersebut demi mengeruk keuntungan finansial.

Mereka menyebarkan hoaks bahwa “seks bebas adalah syarat wajib dari gaib” untuk menarik ribuan pria hidung belang dari berbagai kota yang frustrasi dengan kondisi ekonominya. Akibatnya, peziarah murni yang ingin berdoa justru tersingkirkan oleh kehadiran ratusan pekerja seks komersial (PSK) yang mencari nafkah di bawah kedok tradisi mistis.

Untungnya, dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sragen dan para ulama telah membersihkan dan menertibkan kawasan Gunung Kemukus. Tempat tersebut kini dikembalikan fungsinya sebagai kawasan wisata religi makam bersejarah yang bebas dari praktik prostitusi terselubung. Gunung Kemukus adalah contoh nyata dan paling parah tentang bagaimana sejarah yang dipelintir bisa merusak moralitas ribuan manusia atas nama pesugihan gaib.