
NusaKisah.com – Candi Borobudur selalu menyimpan misteri yang tak habis-habisnya dikupas. Selama ini kita mengetahui bahwa candi Buddha terbesar di dunia ini dibangun di atas sebuah bukit di Dataran Kedu, Magelang. Namun, tahukah Anda ada sebuah hipotesis sains radikal yang menyatakan bahwa pada abad ke-8 Masehi, lingkungan di sekitar candi tersebut tidaklah kering seperti sekarang?
Pada tahun 1931, seorang seniman dan ahli arsitektur Hindu-Buddha asal Belanda bernama W.O.J. Nieuwenkamp melontarkan sebuah teori yang mengguncang dunia arkeologi: Candi Borobudur sebenarnya dirancang untuk menyerupai bunga teratai (lotus) raksasa yang sedang mengapung di tengah-tengah sebuah danau purba! Bunga Lotus: Simbol Kesucian Sang Buddha Teori Nieuwenkamp ini tidak lahir dari khayalan kosong, melainkan didasarkan pada tinjauan filosofis dan geografis. Dalam ajaran Buddha, bunga lotus (teratai) adalah simbol kesucian dan pencerahan yang paling agung. Teratai tumbuh dari dasar lumpur yang kotor, menembus air, namun bunganya bermekaran indah di permukaan air tanpa sedikit pun tersentuh lumpur. Ini melambangkan perjalanan Sang Buddha yang lahir di dunia fana yang penuh hawa nafsu, namun berhasil mencapai nirwana.
Berdasarkan ukurannya, postur Candi Borobudur memang sangat menyerupai kelopak teratai yang merekah jika dilihat dari atas. Namun, teori ini menjadi sangat kontroversial karena menyiratkan bahwa di masa Wangsa Syailendra berkuasa, wilayah Dataran Kedu di sekitar Borobudur seharusnya digenangi air dalam jumlah yang masif (sebuah danau buatan atau alami).

Bukti Geologi dari Endapan Lumpur
Awalnya, banyak arkeolog yang menertawakan hipotesis “Danau Purba” Nieuwenkamp ini. Namun berpuluh-puluh tahun kemudian, ilmu pengetahuan modern mulai membenarkannya. Pada tahun 2000-an, serangkaian penelitian geologi dan palinologi (ilmu tentang serbuk sari kuno) yang dipimpin oleh tim ahli geologi Indonesia melakukan pengeboran lapisan tanah di desa-desa sekitar Borobudur.
Hasilnya sangat mengejutkan! Di kedalaman tertentu, alat bor mereka menemukan lapisan tanah lempung hitam pekat dan lumpur organik yang sangat tebal, yang merupakan karakteristik utama dari dasar sebuah danau atau rawa besar. Analisis lanjutan menemukan sisa-sisa serbuk sari dari tanaman air, membuktikan bahwa kawasan tersebut memang pernah terendam air yang sangat luas.
Menurut ahli geologi, danau purba ini terbentuk secara alami akibat letusan letusan dahsyat Gunung Merapi purba puluhan ribu tahun lalu yang materialnya membendung aliran Sungai Progo, menciptakan cekungan danau raksasa. Para insinyur Wangsa Syailendra pada abad ke-8 sangat jenius dalam membaca kontur alam ini. Mereka sengaja memilih sebuah bukit kecil di tengah danau purba tersebut sebagai fondasi candi.
Sayangnya, danau purba tersebut tidak berumur panjang. Gempa tektonik dan letusan vulkanik besar susulan dari Gunung Merapi (yang juga mengubur sebagian tubuh candi) diyakini telah menjebol bendungan alami Sungai Progo, membuat air danau surut dan mengering, menyisakan daratan subur seperti yang kita pijak saat ini. Candi Borobudur, bagaimanapun juga, adalah bukti bahwa arsitektur Nusantara kuno dibangun menyatu dalam harmoni kosmis dengan alam di sekitarnya.
