Akhir Hidup Gajah Mada: Mitos Moksa vs Fakta Medis di Balik Runtuhnya Sang Patih

NusaKisah.com – Nama Mahapatih Gajah Mada terukir dengan tinta emas sebagai salah satu arsitek politik terhebat dalam sejarah Nusantara. Melalui Sumpah Palapa dan strategi militernya yang tanpa kompromi, ia berhasil membawa Kerajaan Majapahit menuju puncak kejayaan emasnya di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Namun, di balik segala kebesarannya, ada satu misteri yang terus menjadi perdebatan para sejarawan dan budayawan hingga hari ini: bagaimana sebenarnya akhir hidup sang Mahapatih?

Kematian tokoh sebesar Gajah Mada terasa sangat senyap dan diselimuti kabut misteri. Berbeda dengan raja-raja yang dibuatkan candi pendarmaan yang megah, jejak makam atau abu jenazah Gajah Mada tidak pernah ditemukan secara pasti. Kekosongan sejarah inilah yang kemudian melahirkan berbagai mitos dan legenda di tengah masyarakat, yang paling terkenal adalah keyakinan bahwa sang Mahapatih tidaklah mati, melainkan Moksa.

Tragedi Bubat dan Merosotnya Wibawa Sang Patih

Untuk memahami akhir hidup Gajah Mada, kita harus mundur sedikit ke tahun 1357 Masehi, saat terjadinya Tragedi Pasunda Bubat. Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan Kerajaan Sunda di bawah panji Majapahit berujung pada pertumpahan darah yang tragis. Rombongan Kerajaan Sunda yang datang untuk mengantarkan Putri Dyah Pitaloka sebagai calon istri Raja Hayam Wuruk, justru dibantai di Lapangan Bubat karena Gajah Mada bersikeras menuntut mereka tunduk sebagai wilayah taklukan.

Tragedi ini menjadi titik balik yang menghancurkan karier politik Gajah Mada. Hayam Wuruk sangat terpukul dan kecewa berat atas tindakan over-acting patihnya tersebut. Akibatnya, hubungan antara raja dan patih andalannya itu merenggang. Banyak kerabat keraton yang menyalahkan Gajah Mada atas kegagalan pernikahan diplomatis tersebut. Sejak saat itu, pengaruh Gajah Mada di istana merosot drastis, dan ia perlahan-lahan menyingkir dari pusat kekuasaan Trowulan.

Mitos Moksa: Menghilang Tanpa Jejak

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa Kuno dan Bali, tokoh spiritual atau ksatria tingkat tinggi dipercaya mampu melakukan Moksa—yakni pelepasan jiwa dari ikatan duniawi di mana tubuh fisik dan jiwanya menghilang secara gaib tanpa meninggalkan jasad.

Legenda lisan menyebutkan bahwa setelah Tragedi Bubat, Gajah Mada pergi bertapa ke wilayah pedalaman. Ada yang menyebut ia menyingkir ke kawasan Madakaripura (di Probolinggo), sebuah kawasan air terjun yang konon menjadi tanah perdikan miliknya. Di sanalah, di tengah heningnya alam dan kekecewaan politiknya, Gajah Mada dipercaya melakukan meditasi tingkat tinggi hingga tubuhnya lenyap menyatu dengan alam semesta. Ketiadaan makam resminya membuat mitos ini sangat dipercaya selama berabad-abad.

Fakta Teks Sejarah: Catatan Kematian yang Logis

Namun, mari kita singkirkan sejenak kacamata klenik dan membuka catatan sejarah yang lebih otentik. Mpu Prapanca, pujangga istana Majapahit yang hidup satu zaman dengan peristiwa tersebut, mencatat akhir hidup Gajah Mada dalam Kakawin Nagarakretagama dengan sangat jelas dan logis.

Dalam pupuh (bab) 71 Nagarakretagama, disebutkan bahwa pada tahun 1364 Masehi, Gajah Mada jatuh sakit. Mpu Prapanca tidak merinci penyakit apa yang diderita sang Patih, namun disebutkan bahwa sakit tersebut berujung pada kematiannya. Teks tersebut berbunyi: “Tersebutlah pada tahun 1286 Saka (1364 M), Gajah Mada, sang Patih Amangkubhumi yang termasyhur, jatuh sakit dan akhirnya wafat. Kepergiannya membuat Baginda Raja (Hayam Wuruk) sangat bersedih.”

Kakawin Nagarakretagama adalah laporan resmi kerajaan. Fakta bahwa Prapanca mencatat Gajah Mada “jatuh sakit dan wafat” mematahkan mitos tentang moksa atau hilangnya tubuh secara gaib. Sang Mahapatih meninggal layaknya manusia biasa yang tubuhnya menua dan kalah oleh penyakit, terlebih setelah beban mental yang berat pasca Tragedi Bubat.

Kematian Gajah Mada meninggalkan lubang yang sangat besar bagi Majapahit. Hayam Wuruk bahkan kebingungan mencari penggantinya, hingga harus membagi tugas Mahapatih kepada empat menteri sekaligus karena tidak ada satu pun tokoh yang memiliki kapasitas sebesar Gajah Mada. Baik moksa maupun mati karena sakit, akhir hidup Gajah Mada tetaplah epilog yang melankolis bagi seorang raksasa yang menyatukan Nusantara.