Leak Bali: Antara Ilmu Hitam Pengiwa, Kepala Terbang, dan Keseimbangan Alam

NusaKisah.com – Jika Anda berjalan-jalan di pasar seni Bali, Anda pasti akan dengan mudah menemukan topeng bertaring panjang, bermata melotot, dan berlidah menjulur yang sangat ikonik. Banyak wisatawan menyebutnya sebagai “Topeng Leak”. Reputasi Leak sebagai makhluk menyeramkan dari Pulau Dewata telah menyebar ke seluruh Nusantara, sering disamakan dengan makhluk pengisap darah yang mencari tumbal.

Namun, ada sebuah miskonsepsi besar di masyarakat awam. Dalam kepercayaan tradisional masyarakat Hindu Bali, Leak sejatinya bukanlah “hantu” atau roh orang yang sudah meninggal. Leak adalah manusia seutuhnya—hidup dan bernapas—yang mempraktikkan sihir hitam atau ilmu gaib tingkat tinggi yang disebut sebagai Ilmu Pengiwa (Ilmu Kiri).

Mengenal Ilmu Pengiwa (Jalur Kiri)

Dalam filosofi spiritual Bali, ilmu gaib dibagi menjadi dua jalur: Ilmu Penengen (Ilmu Kanan) yang digunakan untuk kebaikan, pengobatan, dan spiritualitas positif; serta Ilmu Pengiwa (Ilmu Kiri) yang digunakan untuk menyakiti, mengutuk, atau mencari keabadian dengan cara yang menyimpang. Praktisi Ilmu Pengiwa inilah yang disebut sebagai Leak (berasal dari kata Li-Ak yang berarti penyihir jahat).

Sama seperti Kuyang di Kalimantan, seorang Leak di siang hari hidup layaknya warga biasa. Namun ketika malam tiba, terutama pada hari-hari tertentu seperti Kajeng Kliwon, mereka melakukan ritual gaib di kuburan (setra) dengan memuja Bhatari Durga, perwujudan dewi penghancur. Ritual ini memungkinkan roh atau sebagian tubuh fisik mereka (biasanya berupa kepala dengan organ dalam yang menggantung) lepas dari raga aslinya untuk mencari mangsa.

Target utama Leak sangatlah spesifik. Mitos menyebutkan bahwa mereka sangat mengincar wanita hamil, janin, bayi yang baru lahir, hingga mayat yang baru saja dikuburkan. Darah dan daging dari korban-korban ini dipercaya menjadi “bahan bakar” agar ilmu hitam mereka semakin kuat.

Tingkatan Ilmu Leak: Dari Monyet hingga Rangda

Ilmu Leak bukanlah ilmu yang bisa dikuasai dalam semalam. Ada hierarki dan tingkatan kesaktian yang harus dilewati oleh para penganutnya. Pada tingkat dasar, seorang Leak biasanya hanya mampu mengubah wujud rohnya menjadi binatang biasa, seperti kera, anjing, babi, atau burung gagak hitam.

Semakin tinggi tingkatannya, wujud perubahannya semakin ekstrem. Leak tingkat menengah bisa berwujud bola api yang melayang-layang (mirip Banaspati) atau kain kafan yang bergerak sendiri. Sementara pada tingkatan tertinggi atau yang paling mematikan, Leak dapat mengubah wujudnya menjadi Rangda—sosok iblis wanita raksasa bertaring panjang dan kuku tajam yang mampu mendatangkan wabah penyakit (gerubug) ke seluruh desa.

Filosofi Rwa Bhineda: Keseimbangan Terang dan Gelap

Meski sangat ditakuti, keberadaan Leak dalam kosmologi Bali tidak selalu dilihat dari sudut pandang kebencian mutlak. Masyarakat Hindu Bali sangat memegang teguh konsep Rwa Bhineda, yaitu keyakinan bahwa alam semesta ini terdiri dari dua elemen yang berlawanan namun saling menyeimbangkan (baik dan buruk, siang dan malam, dewa dan iblis).

Leak dianggap sebagai representasi dari kekuatan negatif (kegelapan) yang keberadaannya mutlak ada untuk menyeimbangkan kekuatan positif (cahaya) di alam semesta. Oleh karena itu, cara masyarakat Bali menghadapi Leak bukanlah dengan memburu dan membunuhnya secara membabi buta seperti tradisi perburuan penyihir di Eropa, melainkan dengan menetralisir energinya melalui upacara pembersihan (Pecaruan) dan memperkuat pertahanan spiritual diri sendiri. Mitos Leak mengajarkan bahwa kegelapan sejati tidak bersembunyi di alam gaib, melainkan bisa tumbuh di dalam hati manusia itu sendiri.