
NusaKisah.com – Jika di ujung timur Jawa Timur terdapat Alas Purwo yang reputasinya sangat menakutkan, maka di wilayah barat Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Ngawi, terdapat sebuah hutan jati lebat yang diyakini sebagai saudara kembar spiritualnya: Alas Ketonggo Srigati.
Bagi kalangan spiritualis dan penganut Kejawen, Alas Ketonggo bukanlah sekadar hutan jati milik Perhutani biasa. Kata “Ketonggo” berasal dari bahasa Jawa, di mana Katon berarti terlihat, dan Onggo (anggo) berarti entitas atau makhluk halus. Secara harfiah, hutan ini diartikan sebagai tempat di mana makhluk tak kasat mata (gaib) sering kali memperlihatkan wujudnya kepada manusia. Hutan ini diyakini sebagai salah satu dari sekian banyak pusat kerajaan gaib terbesar di tanah Jawa, dengan pusaran energi spiritual (chakra) yang sangat kuat.

Jejak Pelarian dan Penyesalan Raja Majapahit
Aura mistis Alas Ketonggo sangat erat kaitannya dengan sejarah kelam keruntuhan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15. Menurut cerita tutur (babad), ketika Majapahit diserang oleh pasukan Kesultanan Demak yang dipimpin oleh putranya sendiri (Raden Patah), Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V, melarikan diri bersama para pengikut setianya menuju Gunung Lawu.
Dalam perjalanannya ke Gunung Lawu, Brawijaya V dan rombongannya dikabarkan singgah untuk beristirahat dan memulihkan diri di sebuah hutan yang sangat rimbun, yang tak lain adalah Alas Ketonggo. Di sinilah sang raja melepaskan pakaian kebesarannya (baju keprabon) dan melakukan ritual pembersihan diri (mandi) di sebuah sungai bernama Kali Tempur.
Terdapat sebuah situs petilasan bernama Palenggahan Agung Srigati, yang berbentuk gundukan tanah diyakini sebagai tempat duduk Sang Prabu saat merenungi nasib kerajaannya yang hancur. Konon, di titik inilah Brawijaya V mengucapkan sumpah dan kutukan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan untuk moksa (menghilang) di puncak Gunung Lawu. Jejak kesedihan dan penyesalan sang raja diyakini masih membekas kuat menjadi energi mistis yang menyelimuti hutan tersebut.
Portal Gaib Pencari Wangsit
Hingga era modern saat ini, Alas Ketonggo tidak pernah sepi dari para peziarah. Kawasan ini memiliki puluhan situs petilasan, mulai dari Sendang Drajat, Sendang Mintowiji, hingga Pesanggrahan Soekarno (yang konon juga sering bertapa di sini).
Banyak politikus, pejabat, hingga pengusaha yang datang diam-diam pada malam 1 Suro atau Selasa Kliwon untuk melakukan ritual kungkum (berendam) di sungai atau bertapa di gundukan Srigati. Tujuannya beragam, mulai dari mencari pangkat, kekayaan, wangsit kepemimpinan, hingga kekebalan tubuh.
Masyarakat lokal sering memberikan peringatan keras (pamali) kepada pengunjung yang datang: jangan berbicara kotor, jangan kencing sembarangan, dan jangan pernah mengambil benda apa pun (seperti batu atau ranting) dari dalam hutan. Barang siapa yang melanggar dan tidak menghormati penghuni tak kasat mata di Alas Ketonggo, diyakini akan diikuti oleh entitas gaib ke rumahnya, disesatkan hingga gila, atau menemui kesialan secara beruntun. Hutan ini adalah monumen hidup tempat bertemunya puing sejarah dan pekatnya mitologi klenik Jawa.
